Membela Palestina, Menjaga Warasnya Kemanusiaan dari Virus Kebencian asal Israel

Author

Damai Aqsha

Rabu, 14 Mei 2025

475

Damai Aqsha — Di salah satu sudut kota Eropa, terekam jelas sebuah demonstrasi pro-Israel. Seorang pria tua mengacungkan tangan dengan gerakan memotong leher—sebuah isyarat pembunuhan—ke arah seorang pemuda yang berdiri membela Palestina. Wajahnya memerah oleh amarah. Namun yang paling menyeramkan bukanlah ekspresi itu, melainkan ketenangan publik di sekitarnya. Tak ada yang menegur. Bahkan aparat kepolisian terkesan justru melindunginya.

Dunia tampaknya telah terbiasa dengan kebencian yang tumbuh diam-diam, lalu meledak tanpa rasa malu. Peristiwa ini bukanlah insiden tunggal. Ia adalah bunyi retak dari pohon tua—yang akar kebenciannya telah ditanam sejak lama, dalam sistem, hukum, dan narasi kenegaraan Israel itu sendiri.

Sejak awal berdirinya, Israel mengadopsi doktrin Zionisme politik yang menempatkan Yahudi sebagai “bangsa pilihan”, sementara kelompok lain diposisikan sebagai pengganggu. Kebencian ini bukan luapan emosi sesaat, melainkan warisan ideologi yang disusun secara sistematis dan dilegalkan secara hukum.

Hal tersebut tampak nyata dalam Undang-Undang Negara Yahudi (Jewish Nation-State Law) yang disahkan Knesset pada 2018, sebagaimana dijelaskan oleh Vox.com. Undang-undang ini mendefinisikan Israel sebagai negara eksklusif bagi Yahudi, mencabut status resmi bahasa Arab, serta secara implisit menyingkirkan hak-hak warga Palestina yang tinggal di wilayah tersebut. Diskriminasi pun bukan lagi sekadar praktik—ia dilegalkan. Supremasi ras menjadi norma, bukan penyimpangan.

Dalam kajian psikologi sosial, fenomena ini dikenal sebagai institutionalized hate. American Psychological Association menjelaskan bahwa ujaran kebencian yang dipelihara oleh institusi melahirkan ketakutan kolektif, membentuk stereotip lintas generasi, dan memicu depersonalization—hilangnya empati terhadap korban. Maka tak mengherankan ketika tentara Israel menembak anak-anak Palestina, sebagian masyarakatnya justru membenarkan tindakan tersebut.

Seorang pemukim Israel pernah berkata, “Kami tembak mereka sekarang, karena jika besar, mereka akan menyerang kami.” (Kompasiana, 2024)

Ucapan ini bukan sekadar ketakutan, melainkan paranoia yang lahir dari cara pandang kolonial. Mental penjajah selalu melihat anak-anak tertindas sebagai ancaman masa depan, bukan sebagai manusia yang berhak hidup. Ironisnya, negara yang dibentuk atas nama trauma Holocaust justru menjelma menjadi pelaku dehumanisasi terhadap bangsa lain.

Kebencian ini tidak berhenti di Palestina. Ia merembes ke media, pendidikan, hingga wacana publik global. Dari akar inilah kebencian terhadap Arab dan Muslim meningkat tajam di Eropa dan Amerika. Islamofobia merajalela. Warga minoritas dicurigai, diserang secara verbal, hingga dikucilkan secara sosial.

Laporan European Commission Against Racism and Intolerance (ECRI) mencatat lonjakan hingga 35% serangan kebencian terhadap Muslim pasca eskalasi agresi Israel di Gaza. Kebencian yang dibiarkan menyebar ini bukan hanya ancaman sosial, tetapi juga bencana psikologis.

WHO dalam laporan tahun 2023 menyebutkan bahwa paparan kekerasan verbal dan politik ekstrem meningkatkan risiko depresi, gangguan kecemasan menyeluruh, hingga PTSD. Dunia perlahan berubah menjadi ladang gangguan mental massal. Dan pemicunya bukan hanya perang fisik, melainkan narasi dendam yang terus direproduksi.

Dalam dunia yang makin retak ini, semakin banyak orang mulai menyadari: kebencian bukanlah kekuatan. Ia adalah penyakit. Namun saat dunia sibuk mencari penawar, satu wilayah justru menyodorkan jawaban—Gaza.

Resiliensi Palestina: Obat bagi Dunia yang Kehilangan Harapan

Perhatikan seorang pria di Gaza bernama Moayyed Harazen. Apartemennya hancur akibat serangan udara Israel. Atapnya jebol, temboknya retak, lantainya dipenuhi puing. Namun suatu pagi, ia menyapu reruntuhan itu, membersihkannya semampunya, membentangkan tikar kecil, lalu memasak makanan sederhana. Ia menyajikannya dengan tenang, duduk bersama keluarganya yang tersisa.

Moayyed bukan satu-satunya. Rakyat Palestina telah berulang kali menunjukkan kepada dunia bagaimana bertahan hidup di tengah kehancuran tanpa membiarkan hatinya ikut runtuh. Anak-anak menghafal Al-Qur’an di ruang kelas berdinding pelat baja. Para ibu membuat roti dari sisa tepung, lalu menyuapinya dengan senyuman.

Mereka tahu bom bisa datang kapan saja. Namun mereka juga tahu, bersyukur adalah bentuk perlawanan paling sunyi dan paling dalam.

Dalam wawancara dengan Stanford Muslim Mental Health Lab, psikiater ternama Dr. Rania Awaad menjelaskan bahwa resiliensi rakyat Palestina bersumber dari dimensi spiritual mereka. Keyakinan kepada Allah dan pemahaman hidup sebagai ujian melahirkan daya tahan luar biasa—yang dalam psikologi dikenal sebagai meaning-centered resilience.

“Iman memberi narasi. Narasi memberi makna. Dan makna memberi daya tahan.”
— Dr. Rania Awaad (Stanford MMHL)

Yusuf al-Qaradawi, dalam Iman dan Kehidupan, menegaskan bahwa orang beriman tidak tenggelam dalam keputusasaan karena hatinya memiliki tempat bersandar. Ia tidak panik, sebab ia yakin setiap peristiwa berada dalam pengaturan Tuhan.

Maka ketika dunia berteriak dan mengutuk langit, rakyat Gaza berbisik:
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
Cukuplah Allah sebagai penolong kami.

Kondisi ini sangat kontras dengan keadaan dunia global. WHO dan World Economic Forum menyebut krisis kesehatan mental pasca-pandemi COVID-19 sebagai “epidemi senyap.” Lebih dari 300 juta orang kini mengalami kecemasan kronis. Bahkan di negara maju, angka bunuh diri anak muda terus meningkat. Manusia kehilangan makna, arah, dan pijakan.

Namun rakyat Palestina—yang hidup di wilayah paling tak pasti—justru menunjukkan arah. Mereka tidak menyerah pada ketakutan. Mereka menanam mentimun di reruntuhan, menulis puisi tentang harapan, dan berkata:

“Kami tidak tahu bagaimana esok. Tapi kami tahu kami akan terus hidup sebagai manusia.”

Resiliensi ini bukan sikap pasif. Ia adalah jihad ruhani—bentuk tertinggi keteguhan hati di tengah kekacauan. Dunia hari ini tidak membutuhkan lebih banyak senjata. Dunia membutuhkan lebih banyak jiwa seperti orang-orang Gaza.

Membela Palestina berarti berdiri bersama manusia-manusia yang telah mengalahkan rasa takut. Mereka tidak membawa bom, tetapi keberanian. Mereka tidak menyebar kebencian, tetapi kasih sayang. Mereka bukan radikal. Mereka adalah pengingat bahwa dunia belum sepenuhnya kehilangan fitrah.

Ketika dunia dikuasai politik ketakutan, krisis mental, dan wabah narsisme digital, Palestina hadir sebagai obat—bukan hanya bagi umat Islam, tetapi bagi seluruh umat manusia. Bukan hanya karena mereka korban, tetapi karena mereka membuktikan: manusia bisa kehilangan segalanya, tanpa kehilangan kemanusiaannya.

Hari ini, dunia tidak membutuhkan Gaza sebagai sekadar berita duka. Dunia membutuhkan Gaza sebagai cermin untuk bertanya:

“Apa yang membuat kita tetap manusia, saat segalanya dirampas dari kita?”

Tags
#Kebencian #penjajah israel #Israel #Demonstrasi #Eropa
Komentar 0

Silakan login untuk memberikan komentar.

Belum punya akun? Daftar sekarang

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!