Khazanah
Belajar Seindah-indahnya Penerimaan dari Anak-anak Gaza
Damai Aqsha – Bayangkan, di hari Anda menerima gaji, Anda memutuskan membeli oleh-oleh buah-buahan. Terus saat tiba di rumah, tidak ada anak-anak yang antusias menyambut. Ada yang tetap di kamarnya, sementara yang satu lagi sedang fokus dengan ponselnya. Sedangkan, istri Anda fokus memasak. Kami yakin, meski Anda tahu mereka memang pada aktivitas yang normal, tetap saja, ada perasaan kosong dalam hati Anda. Di sini, kita dapat menemukan bahwa ekspresi gembira dengan pemberian itu membahagiakan pemberinya.
Dalam sebuah video, terlihat anak Palestina yang mendapatkan buah-buahan. Memang bukan anggur muskat, hanya pisang, kesemek, dan jeruk. Meski begitu, yang menarik adalah reaksi anak-anak ini. Meski mereka baru pertama kalinya mendapati buah-buahan lagi, namun bukannya mereka menyerbu, apalagi berebut. Yang mengemuka ialah rasa syukurnya. Bahkan, salah satunya sampai memeluk sosok yang memberinya. Dilanjutkan dengan saling peluk satu sama lain dengan saudaranya.
[embed]https://www.instagram.com/p/DCwGIAMzkTf/[/embed]
Sebagaimana kita tahu, produksi dalam negeri Palestina terhambat lantaran aset mereka dirampas oleh perampok Zionis Israel, terutama sejak pemboman massif berlangsung dari tahun 2023 lalu. Padahal, tanah mereka tanah yang diberkati. Ia subur dan juga menghasilkan buah-buahan terbaik. Saking suburnya, bibit pohon apel bisa tumbuh meski harus meretakkan jalanan beraspal. Pun, pasokan bantuan dari luar tak bisa masuk dengan mudah. Bahkan, belakangan, gilanya, para perampok itu merampas bantuan yang masuk ke Gaza. Tak hanya itu, sebagian pasokan makanan ada yang diracuni. Karena itu, amat pantas, jika anak-anak mendapati buah-buahan sebagai barang mewah yang mereka rindukan. Meski begitu, mereka tetap menunjukkan akhlak terbaik dalam penerimaannya.
Sebenarnya, wajar, jika anak-anak menyerbu oleh-oleh yang menjadi kesukaannya. Apalagi, anak-anak dalam kondisi lapar. Itulah ekspresi kalau oleh-oleh yang dibawa itu tepat. Hal itu masih lebih baik dibanding jika oleh-oleh yang kita bawa dicuekin, dibiarkan di atas meja makan tanpa disentuh sama sekali. Kondisi lainnya, ketika kita pulang dan membawa kresek, yang ditanyakan adalah isi kreseknya, bukannya malah menyambut kita yang membawanya,
Namun, rasanya pada hati akan berbeda jika anak-anak mengemukakan rasa syukur di awal sebelum menyerbu oleh-oleh yang kita bawa. Mereka menyambut kita lebih dulu, sembari membawakan oleh-olehnya. Seolah, mereka tahu kalau bersyukur juga ada caranya. Padahal, mereka masih anak-anak, namun mereka tahu cara bersyukur terbaik.
Anak-anak di Gaza yang dengan riang hati menerima makanan yang Anda titipkan pada kami. Foto: eksklusif[/caption]
Ketiga, orang yang menolak sama sekali pemberian. Dalam hal ini, bisa jadi alasannya teknis. Misal, ketika kita pulang kampung, biasanya orang tua inisiatif membukungkan kita bingkisan berupa masakan khas, kerupuk khas, atau hasil bumi. Saking banyaknya, kita jadi merasa ribet atau repot. Akhirnya, menolak. Alasan lainnya, mungkin karena Anda menilai orang yang memberinya itu ada maunya, sedangkan Anda tahu dia bukan orang yang amanah. Misal, caleg atau calon kepala daerah, memberi hadiah agar Anda mendukung, padahal orang tersebut terkenal zalim dengan jabatannya. Alasan lainnya, adalah karena Anda semata-mata benci pada orang yang memberinya, misal mantan pasangan Anda di masa lalu.
Mendapati hal itu, siapapun yang menjadi pemberinya, tentu akan terluka hatinya, meski Anda menolaknya dengan kalimat yang halus sekalipun. Bisa jadi, ia takkan pernah memberi lagi, kecuali dia orang tua-mu, bisa jadi dia akan terus memberi.
Keempat, orang yang menerimanya dengan kesadaran. Dalam hal ini, terlepas dari jenis barangnya, dia tetap menerimanya dengan baik. Apalagi, jika orang yang memberinya adalah orang yang dia kenal baik. Misal, orang tuanya. Meski pemberiannya biasa saja, ia tetap menerimanya. Sikap itu muncul sebagai buah dari kesadaran, jika di balik pemberian itu, ada kasih sayang dan pengorbanan. Inilah sikap ideal yang ditunjukkan oleh adik-adik Palestina. Mereka menghargai pemberinya sebelum pemberiannya.
Seorang anak di Gaza yang tengah menikmati sajian makanan titipan Anda. Sumber: Eksklusif[/caption]
Berdasarkan pendapat tersebut, kita dapat menyimpulkan, menerima pemberian itu sangat dianjurkan. Sementara menolak bisa jadi malah berdampak kurang baik pada diri kita. Apakah karena niatnya karena gengsi atau malu karena yang memberi, misalnya kondisi kekurangan atau bisa jadi memelesetkan niat kita; menolak karena ingin terlihat zuhud di mata orang lain. Kalau mau, terima saja dulu, baru setelah itu dibagikan atau diberikan pada orang lain, tentunya tanpa ketahuan oleh yang memberinya. Itu lebih baik. Sebagaimana dijelaskan lebih lanjut oleh Sayyid Abdullah al-Haddad sebagai berikut:
4 Ekspresi Mendapatkan Pemberian
Pada dasarnya, ada beberapa ekspresi yang muncul saat orang mendapatkan pemberian atau hadiah. Tipe pertama, mereka yang menerimanya dengan amat gembira. Saking gembiranya, sampai-sampai dia lupa dengan siapa yang memberinya. Biasanya, orang yang begini adalah orang yang kelaparan. Sebenarnya wajar, kalau lapar, nalurinya ya fokus ke makanan lah. Orang yang memberinya mungkin senang, tapi dia pasti kurang puas karena ia merasa dirinya tidak lebih bernilai daripada barang pemberiannya. Kedua, mereka yang menerimanya dengan dingin. Biasanya, itu lantaran di matanya, apa yang dia terima itu biasa saja, namun dia merasa tidak enak jika menolaknya. Dia menerimanya, tapi tidak terlihat antusias sama sekali, terus biasanya tidak ia segera buka atau dibiarkan tergeletak begitu saja. Apakah karena dia sudah terlalu sering mendapatkannya atau barang yang dia dapat tidak sesuai dengan standar seleranya, apakah dari segi warna atau desain misalnya. Sebenernya, ekpresi tersebut wajar, hanya mungkin akan menggoreskan sedikit luka di hati orang yang memberikannya. [caption id="attachment_1152" align="alignnone" width="2560"]
Anak-anak di Gaza yang dengan riang hati menerima makanan yang Anda titipkan pada kami. Foto: eksklusif[/caption]
Ketiga, orang yang menolak sama sekali pemberian. Dalam hal ini, bisa jadi alasannya teknis. Misal, ketika kita pulang kampung, biasanya orang tua inisiatif membukungkan kita bingkisan berupa masakan khas, kerupuk khas, atau hasil bumi. Saking banyaknya, kita jadi merasa ribet atau repot. Akhirnya, menolak. Alasan lainnya, mungkin karena Anda menilai orang yang memberinya itu ada maunya, sedangkan Anda tahu dia bukan orang yang amanah. Misal, caleg atau calon kepala daerah, memberi hadiah agar Anda mendukung, padahal orang tersebut terkenal zalim dengan jabatannya. Alasan lainnya, adalah karena Anda semata-mata benci pada orang yang memberinya, misal mantan pasangan Anda di masa lalu.
Mendapati hal itu, siapapun yang menjadi pemberinya, tentu akan terluka hatinya, meski Anda menolaknya dengan kalimat yang halus sekalipun. Bisa jadi, ia takkan pernah memberi lagi, kecuali dia orang tua-mu, bisa jadi dia akan terus memberi.
Keempat, orang yang menerimanya dengan kesadaran. Dalam hal ini, terlepas dari jenis barangnya, dia tetap menerimanya dengan baik. Apalagi, jika orang yang memberinya adalah orang yang dia kenal baik. Misal, orang tuanya. Meski pemberiannya biasa saja, ia tetap menerimanya. Sikap itu muncul sebagai buah dari kesadaran, jika di balik pemberian itu, ada kasih sayang dan pengorbanan. Inilah sikap ideal yang ditunjukkan oleh adik-adik Palestina. Mereka menghargai pemberinya sebelum pemberiannya.
Ketentuan Menerima Pemberian
Kalau kita dalam posisi dan kondisi mampu, tentu memberi itu lebih baik. Namun, menerima dengan baik pemberian orang lain, terutama hadiah juga baik. Dalam hal ini, kita harus tahu, kapan posisi kita itu memang seharusnya memberi, kapan posisinya kita memang hatus menerima. Bukankah Rasulullah Saw. juga menerima hadiah? Selama, kita tidak meminta-minta sebelumnya, selama tidak ada paksaan, semata-mata karena kasih sayang orang lain pada kita, maka boleh kita menerimanya. Bahkan, sebagian ulama mengatakan, menolak pemberian (hadiah) itu justru lebih besar mudharat-nya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Umar Radhiyallahu anhu :خُذْهُ، وَمَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا الْمَالِ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلاَ سَائِلٍ، فَخُذْهُ، وَمَا لَا، فَلاَ تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ
Ambillah pemberian ini. Harta yang datang kepadamu, sedang engkau tidak mengharapkan kedatangannya dan tidak juga memintanya, maka ambillah! Dan apa-apa yang tidak (diberikan kepadamu), maka jangan memperturutkan hawa nafsumu (untuk memperolehnya) (Muttafaqun ‘Alaih) Sayyid Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam kitabnya berjudul Risâlatul Mu‘âwanah wal Mudhâharah wal Muwâzarah (Dar al-Hawi, 1994, hal. 140) sebagaimana dikutip oleh NU Online, memberikan jawaban atas pertanyaan itu sebagai berikut:وَاِيَّاكَ) أَنْ تُكَسِّرَ قَلْبَ مُسْلِمٍ بِرَدِّ صَنِيْعَتِهِ عَلَيْهِ، وَاَنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ الوَاصِلَ إِلَيْكَ عَلَى يَدِهِ إِنَّمَا هُوَ مِنَ اللهِ حَقِيْقَةً وَإِنَّمَا هُوَ وَاسِطَةٌ مُسَخّرٌ مَقْهُوْرٌ وَفِي اْلحَدِيْثِ: "مَنْ اَتَاهُ شَيْئٌ مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ وَلَااسْتِشْرَافِ نَفْسٍ فَرَدَّهُ فَإِنَّمَا يَرُدُّهُ عَلىَ اللهِ."
“Janganlah engkau menyinggung perasaan seorang Muslim dengan menolak pemberian (hadiah) darinya, padahal engkau mengetahui bahwa sesuatu yang sampai ke tanganmu sejatinya berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala, dan sesungguhnya orang yang menyampaikannnya kepadamu hanyalah perantara yang dikendalikan dan dipaksa (oleh Allah subhanahu wa ta’ala). Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: ‘Barangsiapa datang kepadanya suatu pemberian tanpa ia memintanya atau menunjukkan keinginan untuk memperolehnya, lalu ia menolaknya, sesungguhnya ia menolak pemberian Allah subhanahu wa ta’ala.’” [caption id="attachment_1153" align="alignnone" width="2560"]
Seorang anak di Gaza yang tengah menikmati sajian makanan titipan Anda. Sumber: Eksklusif[/caption]
Berdasarkan pendapat tersebut, kita dapat menyimpulkan, menerima pemberian itu sangat dianjurkan. Sementara menolak bisa jadi malah berdampak kurang baik pada diri kita. Apakah karena niatnya karena gengsi atau malu karena yang memberi, misalnya kondisi kekurangan atau bisa jadi memelesetkan niat kita; menolak karena ingin terlihat zuhud di mata orang lain. Kalau mau, terima saja dulu, baru setelah itu dibagikan atau diberikan pada orang lain, tentunya tanpa ketahuan oleh yang memberinya. Itu lebih baik. Sebagaimana dijelaskan lebih lanjut oleh Sayyid Abdullah al-Haddad sebagai berikut:
Komentar 0
Silakan login untuk memberikan komentar.
Belum punya akun? Daftar sekarang
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berkomentar!